Risy Tuarlela
Berikut ini saya menceritakan sedikit
tentang sejarah singkat Desa Arma Kecamatan Nirunmas Kabupaten Kepulauan
Tanimbar. Dalam penulisan ini terdapat dua versi jadi saya namakan versi I dan
versi II. Data-data ini di rampung dari hasil wawancara di lapangan bersama
para tua-tua adat dan pemerintah desa. Saya tidak berani mengambungkan jadi
satu cerita tapi saya membuat dalam dua versi. Saya tidak bisa memastikan isi
cerita dari kedua versi ini mana yang asli. Tapi sebagai arsip saya lebih
senang untuk menyimpannya di blog. Semoga bermanfaat bagi basudara yang lain.
Sejarah
Desa Arma (Versi I)
Desa Arma adalah sebuah desa yang terbentuk dari perpindahan
yang terjadi ketika tenggelamnya ‘Pulau Bersadi’. Para leluhur berusaha mencari
tempat hunian yang baru dan daratan pulau ‘Yamdena (Yamdena Ulun)’ yang
terletak pada bagian timur Kabupaten Kepulauan Tanimbar . Para leluhur pada
beberapa tempat yang disebut ‘Tnyafir-Tnyafir’ atau kampung-kampung tua yang
berada di wilayah penghujung pulau Yamdena (Yamdena Ulun), yang disatukan
melalui masing-masing Tnyafir dan marga yang dengan mempunyai cerita danasal
usulnya tersendiri. Tnyafir Yaurmas (terletak pada bagian utara dan barat);
Tnyafir Angwampuin (terletak pada bagian barat daya berbatasan dengan hutan
Yamdena); Tnyafir Feninlampir (terletak pada bagian selatan berbatasan dengan
desa Manglusi); Tnyafir Ermua (terletak pada bagian timur berbatasan dengan
desa Watmuri).
Berawal
dari tahun 1613 terbentuklah sebuah dusun, yang datangnya dari seorang tua dari
marga ‘Samangun’ yang bernama ‘Ken Lameku’, datang dari Tnyafir Ermua yang
dikenal dengan nama lain ‘Ermyau’, nama kampung lama terkenal disebelah timur pantai yang
indah dengan pasir putih. Ken Lameku melakukan pekerjaan setiap hari yaitu
berburu dan mencari binatang-binatang buas di hutan, dan juga hasil usaha
lainnya adalah ‘Tipar’ atau menyadap air sageru ynag dibuat dari pohon enau.
Lokasi tempat perburuan dan menyadap enau tersebut berada pada bagian Barat
Larin Ermau (lokasi kampung sekarang), secara rutin pekerjaan itu digeluti
setiap saat yang pada akhirnya ia membangun sebuah tempat peristirahatan yaitu
rumah kebun (kenjap let) yang digunakan untuk beristirahat dan melepas lelah.
Selanjutnya
ditemukan juga sebuah mata air yang diberi nama ‘Kaisu Batsandai’ yang berasal
dari nama seekor anjing yang dipakai untuk berburu binatang. Anjing tersebut
yang telah menemukan mata air itu, sumber mata air tersebut merupakan sumber
mata air yang dipakai sampai sekarang untuk kebutuhan air minum bagi anak cucu,
yang biasanya disebut “Wekaumpu”, artinya mata air ini diberikan untuk umum
sebagai hak pakai. Selanjutnya beberapa tahun berjalan dengan hasil pencaharian
yang diperoleh ditempat tersebut, maka Ken Lameku berencana membangun rumah
untuk tempat tinggal tetap, mengingat hasil pencariannya, baik disamping itu
pula wilayah tersebut merupakan wilayah yang aman dan petuanannya cukup besar
baik itu petuanan laut maupun darat.
Ken Lameku kembali ke Larin Ermau
dengan maksud untuk meminta izin dari tua-tua negeri, agar dia bersama seisi
keluarganya keluar dari Larin Ermau dan membangun rumah untuk tempat tinggal di
lokasi yang baru, dimana dulunya merupakan tempat persinggahan. Permintaan Ken
Lameku tidak dikabulkan, namun selama beberapa hari kemudian terjadilah musibah
kematian anak-anak yang disebabkan oleh hewan tikus dengan memakan ubun-ubun
dari kepala anak-anak pada saat ibu-ibu melahirkan, maka pada akhirnya Ken
Lameku bersama keluarga dilepaskan bersama seisi keluarganya untuk membangun
rumah pada lokasi yang telah diberi tanda patok. Selanjutnya beberapa tahun
kemudian muncul marga-marga lain yang datang dari berbagai tempat untuk menetap
bersama Ken Lameku dan keluarganya, ada yang datang Tnyafir Yaurmas, Tnyafir
Angwampuin, Tnyafir Feninlampir diantara marga Yambormias, marga Batkormbawa,
marga Daskunda, marga Batmomolin, dan marga Masela. Mereka kemudian membangun
rumah masing-masing dan kemudian nama Tnyafir Ermau diganti dengan nama
“Tnyafir Errnyau” yang artinya memanggil siapa saja. Semakin hari penduduk
mulai bertambah banyak, sehingga mereka bermufakat untuk membagi tugas melalui
masing-masing marga yang ada dalam kedudukan sebagai pemangku jabatan adat
dalam dusun Errnyau, pembagian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Marga
Samangun : bertugas sebagai orang yang pertama menerima tamu-tamu yang datang
dari luar dusun, yang disebut dalam bahasa daerah “Mas” artinya menunggu atau
menerima tamu (mangmuar).
2. Marga
Yambormias : bertugas sebagai “Sorluri” artinya dalam menghadapi adat istiadat
luar maupun dalam tetap pada posisi depan.
3. Marga
Batkormbawa : bertugas sebagai “Mel” ketua adat (tuan tanah)
4. Marga
Daskunda : bertugas sebagai “Mel Mangatnyanuk” (hak juru bicara).
5. Marga
Batmomolin : bertugas sebagi “Mel Pegang Batu Pamale”, dimana pada saat
pembangunan gedung rumah maka marga Batmomolin yang akan meletakkan batu
pertama, sekaligus diberi hak pengawasan petuanan lautan dan daratan.
6. Marga
Masela: bertugas sebagai “Mangafak” (marinyo) untuk memberikan pengumuman bagi
masyarakat yang berkaitan dengan adat-istiadat.
Selanjutnya
muncul marga-marga yang lain, yang datang dari berbagai tempat, mereka juga diberi tugas dengan fungsi dan jabatan masing-masing. Diantaranya
marga ; Siletty, marga Pembuain, marga Skaitmudy, marga Londin, dan lain-lain.
Kepercayaan mereka pada saat itu masih bersifat
‘Animisme’ dimana selalu mengharapkan kekuatan magis yang berasal dari alam.
Pada tahun 1912 pada masa pemerintahan Hindia-Belanda barulah penyebaran Injil
sekaligus menghimpun masyarakat untuk beralih kepercayaan dan bertobat untuk di
baptis. Dari sinilah Dusun Ermau diberi nama Desa Arma (Errnyau) yang artinya memanggil dan
mengundang siapa saja.
Sejarah
Desa Arma (Versi II)
Desa
Arma dulu kira-kira pada abad ke VIII M, terdapat sebuah kampung di pulau
Yamdena Utara (Kepulauan Tanimbar) yang bernama angwampuin. Kampung ini dihuni
oleh seorang satria perkasa yang bernama Kormpau Felan Andriyaman (yang
dipahami moyang pertama dalam sejarah orang Arma) bersama keluarga serta
pengikut-pengikutnya. Daerah kekuasaannya amat luas dimana sebelah utara
berbatasan dengan kampung Aryata pada pulau Tongirsoin dan sebelah selatan
berbatasan dengan kampung kilmasa. Dalam sejarah kehidupannya, tak lama
kemudian pulau Arkilu dan Lenglengar yang mendirikan kampung yang mana sebelah
selatan yang berbatasan dengan Arkilu Lenglengar pada Feninlambir. Kormpau
Fenan Adrityaman itu kemudian dikenal dengan marga Batkormbawa. Dalam proses
kehidupan sehari-hari sesuai dengan tradisi adat di Tanimbar, maka semua
penghuni daerah kekuasaan Angwampuin mengaku dirinya sebagai Lolat dan marga
Batkormbawa yang merupakan keturunan dari Felan Andrityaman sebagai Duang.
Untuk mempertahankan kekuasaan
Angwampuin yang luas itu, maka Ken lliyolik yang adalah keturunan Kormpau Felan
Andrityaman, memerintah anak-anaknya, antara lain: Alait, Awolin, dan NgongRatu
untuk memanggil dan mengumpulkan semua orang penghuni daerah-daerah kekuasaan
Angwampuin untuk diajak bermufakat guna membuat sebuah kampung.Setelah selesai
bermufakat, maka mereka memilih tempat perkampungan pada pesisir pantai,
selanjutnya guna menentukan nama apa yang diberikan pada kampung yang akan di
bangun, maka oleh Ken Ilyolik menyarankan, bahwa nama kampung tersebut adalah
Elmya yang diartikan “Suruh panggil” yang di ambil dari pengertian Ken Ilyolik
dimana menyuruh anaknya untuk memanggil dan mengumpulkan semua penghuni dari
daerah kekuasaannya guna bersatu dalam satu kampung.
Di kemudian hari Elmya
lebih lasim ditulis Ermiyau. Hal ini disebabkan oleh pelafalan dialek setempat.
Selanjutnya oleh bangsa Belanda lebih menyukai dan menyebut Elmiya dengan
Arma,maka terbentuklah kampung Ermyau (Arma) dengan penghuninya yang berasal
dari berbagai marga yang disatukan menjadi warganya. Jadi sesungguhnya kampung
Arma adalah merupakan penyamaan dari kampung Angwampuin. Sebuah kampung tua di
Tanimbar yang sejarahnya hampir punah akibat perkembangan zaman, namun dengan
adanya data-data konkrit seperti tradisi lisan yang berkembang dimasyarakat,
maka sejarah kampung tersebut bisa ditulis dan dijadikan aset bagi generasi
selanjutnya.


Komentar
Posting Komentar